
BAKESBANGPOL KEPRI – Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Kepulauan Riau Drs.Muhamad Iksan, M.Si menyampaikan hal ini saat menjadi Narasumber pada Kegiatan Focus Grup Discussion (FGD) Peningkatan Kapasitas Kepengurusan Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Provinsi Kepulauan Riau (21/11/2005) di Asrama Haji Provinsi Kepulauan Riau di Tanjungpinang.
Disampaikan Iksan bahwa dari Data Detasemen Khusus 88 Antiteror mengungkap meningkatnya jumlah anak yang terpapar paham radikal akibat perekrutan kelompok teror melalui media daring, termasuk game online.
“Periode 2011–2017 jumlah yang terpapar hanya belasan, namun pada 2025 jumlahnya melonjak signifikan 110 anak yang usianya antara 10-18 Tahun saat ini yang terindikasi yang tersebar lebih dari 23 Provinsi di Indonesia. Ada tren yang tidak biasa.
Menurut Iksan mengacu pada data tersebut hal ini menunjukan ada proses yang sangat masif sekali rekrutmen yang dilakukan melalui media Media Sosial, lanjutnya. Pola penyebarannya dengan Propaganda awal disebar lewat platform terbuka seperti Facebook, Instagram, dan game online.
Platform umum ini akan menyebarkan dulu visi-visi utopia yang mungkin bagi anak-anak bisa mewadahi fantasi mereka sehingga mereka tertarik.
Anak-anak dibikin tertarik dulu, kemudian mengikuti grup, kemudian diarahkan kepada grup yang lebih privat. Di situlah proses-proses indoktrinasi berlangsung,” ujarnya.

Iksan menambahkan ada beberapa faktor yang mempengaruhi anak untuk terjerumus diantaranya: mengalami Bullying, broken home, kurang perhatian keluarga, pencarian identitas diri, marginalisasi sosial, minimnya literasi digital dan kurangnya pemahaman agama.
Iksan melanjutkan, untuk di Batam ada seorang siswa SMA di tangkap polisi diduga terdeteksi terafiliasi dengan jaringan terorisme/kriminal yang ditautkan lewat device android miliknya. Hingga sekarang polisi sedang melakukan pendalaman
“Kondisi ini tentunya sungguh memprihatinkan. Kewaspadaan Dini untuk Cegah Dini harus segera dilakukan. Dan Peran Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat sangat penting untuk melakukan upaya-upaya untuk mencegah agar generasi muda khususnya pelajar tidak terpapar oleh paham Radikalisme dan terorisme,” ucap Iksan.
Hal ini, lanjutnya tentunya perlu kita waspadai bersama. Ini juga menjadi Kerja Kolaboratif semua pihak baik itu Pemerintah, TNI/Polri, Sekolah, Kampus, Ormas, Forum-Forum dan yang Paling penting adalah orang tua yang secara langsung dapat mengawasi anak dalam penggunaan gadget/mediq sosial.*

