Tanjungpinang, 30 September 2026 — Sekretaris Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Kepulauan Riau, Aludin Andi, S.E., M.M., menjadi narasumber dalam program Dialog Tanjungpinang Pagi yang diselenggarakan RRI Pro 1 Tanjungpinang, Rabu (30/9/2026).
Dialog yang berlangsung pukul 08.00–09.00 WIB tersebut mengangkat tema “Kesaktian Pancasila: Menjaga Persatuan di Tengah Perbedaan”, dalam rangka memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Dialog dipandu oleh Aisyah Jali Idris dan menghadirkan narasumber lainnya, Dr. Zamzami A Karim, M.A., Ph.D., pengamat politik.
Dalam paparannya, Aludin Andi menyampaikan bahwa Pancasila merupakan dasar negara sekaligus nilai pemersatu bangsa yang relevan dalam menghadapi keberagaman dan berbagai perubahan sosial. Nilai-nilai Pancasila perlu diwujudkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari, bukan hanya dipahami sebagai konsep.
Menurutnya, keberagaman suku, agama, budaya, bahasa, pandangan, dan latar belakang masyarakat merupakan bagian dari realitas kehidupan bangsa Indonesia. Perbedaan tersebut perlu dikelola melalui toleransi, saling menghargai, dialog, dan semangat gotong royong, sehingga tidak berkembang menjadi sumber konflik atau perpecahan.
Aludin juga menekankan pentingnya mengamalkan nilai-nilai setiap sila Pancasila. Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi landasan untuk saling menghormati keyakinan, kemanusiaan mendorong sikap saling menghargai, sementara persatuan Indonesia mengajarkan agar kepentingan bersama ditempatkan di atas kepentingan kelompok.
Nilai musyawarah dan keadilan sosial juga perlu diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk dalam menyelesaikan perbedaan secara damai dan membangun kehidupan sosial yang inklusif.
Dalam konteks generasi muda, Aludin mengingatkan bahwa tantangan persatuan juga hadir di ruang digital. Penyebaran hoaks, ujaran kebencian, provokasi, dan informasi yang tidak terverifikasi dapat memperbesar perbedaan apabila tidak disikapi secara bijak. Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan literasi digital, kemampuan menyaring informasi, serta etika dalam bermedia sosial.
Ia menegaskan bahwa memperingati Hari Kesaktian Pancasila bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga persatuan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Dialog RRI tersebut menjadi ruang edukasi publik untuk membangun pemahaman bahwa keberagaman bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan yang dapat memperkokoh persatuan apabila disertai toleransi, saling menghormati, dan semangat kebersamaan.