Home » Berita Terkini » Berita Terkini » Mencegah Radikalisme dan Disintegrasi Bangsa dengan Penguatan Nilai Pancasila

Mencegah Radikalisme dan Disintegrasi Bangsa dengan Penguatan Nilai Pancasila

BAKESBANGPOL KEPRI – Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) yang diwakili Sekretaris Bakesbangpol, Aludin Andi, SE, MM hadir sebagai narasumber Dialog Tanjungpinang Pagi pada Selasa (30/09) Pagi, di Studio Pro 1 RRI Tanjungpinang. Dialog yang digelar dalam rangka memperingati Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober itu mengangkat tema yakni: “Mencegah Radikalisme […]

BAKESBANGPOL KEPRI – Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) yang diwakili Sekretaris Bakesbangpol, Aludin Andi, SE, MM hadir sebagai narasumber Dialog Tanjungpinang Pagi pada Selasa (30/09) Pagi, di Studio Pro 1 RRI Tanjungpinang.

Dialog yang digelar dalam rangka memperingati Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober itu mengangkat tema yakni: “Mencegah Radikalisme dan Disintegrasi Bangsa dengan Penguatan Nilai Pancasila”. membersamai Sesban Kesbangpol Kepri, Aludin Andi turut hadir narasumber lainnya, dari Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kepri, yang diwakili Ridarman Bay, SE, MM selaku Kabid Pemuda dan Pendidikan.

Dialog Tanjungpinang Pagi tersebut, dipandu oleh Renny Ilda Fallantra sebagai Host Dialog. Mengawali pembicaraan, Renny menyampaikan prolog bahwa dialog ini sangat penting dan relevan bagi masa depan bangsa dalam mencegah radikalisme, terorisme dan disintegrasi bangsa.

“Dengan penguatan nilai Pancasila, ditengah arus globalisasi, disrupsi digitalisasi dan tantangan Ideologis yang kian kompleks Pancasila bukan sekedar dasar negara, ia akan menjadi benteng kebangsaan, pemersatu keberagaman dan kompas negara,” ucapnya.

Selanjutnya dalam kesempatan dialog itu, Sesban Kesbangpol Kepri Aludin Andi mengawali penyampaiannya, terkait latar belakang diperingatinya Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober setiap tahun secara nasional.

“Kita flashback dulu, kenapa Hari Kesaktian Pancasila diperingati. Jadi sejarahnya pada tahun 1965 itu bangsa kita mengalami cobaan luar biasa, yang dikenal adanya Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S PKI),” ungkap Andi.

Andi menjelaskan gerakan yang dilakukan gerombolan PKI tersebut ingin merubah Ideologi Pancasila dengan Ideologi Komunis. Beruntungnya saat sejumlah petinggi TNI menentang hal itu, hingga pada akhirnya sejumlah Jendral ditangkap, sebelum akhirnya disiksa, dan dibunuh dan dibuang ke lubang buaya.

“10 orang yang gugur dalam peristiwa itu ditetapkan oleh pemerintah sebagai pahlawan revolusi, termasuk 7 orang Jendral. Untuk itulah guna menghormati jasa pahlawan revolusi dalam mempertahankan kesatuan bangsa Indonesia diperingati Hari Kesaktian Pancasila,” jelas Andi.

Selanjutnya bicara konteks masa kini menurutnya, sebagai generasi bangsa saat ini dituntut untuk mengisi kemerdekaan ini dengan pembangunan dan berbagai hal positif dengan tetap menjadikan Pancasila sebagai dasar maupun pandangan hidup serta cita-cita tujuan bangsa.

Andi menambahkan, fenomena sekarang terkait radikalisme dan disintegrasi bangsa jadi tantangan besar bangsa Indonesia karena dengan diera globalisasi ini kecepatan informasi, telah meronrong generasi muda termasuk Gen Z terhadap hal hal berbau radikal dan terrorisme.

“Menurut hasil survey bahwa paham-paham itu sangat kuat pengaruhnya yang masuk dari media sosial, digital disitulah kita perlu menanamkan nilai luhur Pancasila pada generasi sekarang sehingga terbentengi diri mereka dari paham-paham yang Radikal atau Terorisme maupun intoleransi berbangsa dan bernegara,” tambahnya.

Selanjutnya saat Renny selaku Host kemudian mempertanyakan, apakah kondisi geografis Provinsi Kepri yang berbatasan ada kecenderungan punya peluang untuk masuknya Ideologi transnasional, yang dapat memecah belah masyarakat kita?

Menjawab hal itu, Sesban Kesbangpol Kepri Aludin Andi mengatakan, potensi itu ada. Menurutnya posisi Kepri yang unik, berupa Kepulauan yang memiliki sebanyak 2.408, dimana Pulau dan 397 Pulau diantaranya berpenghuni dan berbatasan negara negara tetangga, terutama Bagian Barat dengan Malaysia dan Singapura, serta bagian Utara dengan Kamboja dan Vietnam.

“Artinya kondisi strategis ini punya nilai negatif masuknya paham-paham lain selain Ideologi Pancasila sehingga ini sangat kuat masuknya apalgi kita berbatasan dengan luar negara, jadi ini tantangan tersendiri bagi Kepri, bagaimna menjaga keutuhan negara, bagaimana pemerintah mengelola sehingga anak-anak kita gen z tidak terkontimasi bisa terpengaruh dan merusak persatuan. Potensinya ada,” tegas Andi.

Mengantisipasi hal itulah, beberapa langkah pemerintah yang dilaksanakan bagaimana terus berupaya menanamkan nilai-nilai luhur Pancasila dan pendidikan karakter kepada generasi muda.

“Pertama lewat pendidikan pemerintah terus tanamkan nilai nilai luhur bangsa di dalam kurikulum baik materi pendidikan kurikulum sehari-hari itu diterapkan ditanamkan dalam kehidupan sehari hari generasi muda atau anak pelajar, kemudian dari segi sisi keluarga juga penting karena awal mulanya pendidikan awal itu Disni maka peran nya dikuatkan dalam membina anak-anak, terutama bagaimana belajar etika, kedisiplinan, demokrasi, dimulai dari keluarga,” tambahnya.

Kemudian, lanjutnya pemerintah juga melaksanakan sosialisasi baik secara konvensional, dengan pertemuan menggandeng Ormas OKP, untuk memberikan informasi penting penguatan Pancasila kepada masyarakat tentang penguatan nilai Pancasila, juga sosialisasi media sosial himbauan-himbauan pemerintah berupa flayer, konten-konten kreatif.

“Termasuk dukungan media konvensional seperti RRI, media elektronik dan teman media cetak maupun online sangat mendukung untuk pencegahan paham paham ini sehingga kita rasakan sekarang Kepri ekonomi dan pembangunan sangat bagus dan tidak ada hal yang menonjol yang untuk memperkeruh persatuan dan kesatuan di Kepri,” ungkapnya.

Selanjutnya sesi narasumber FKPT, Host mempertanyakan bagaimana kondisi penyebaran paham radikal pada generasi muda saat ini.

Selaku Kepala Bidang Pemuda dan Pendidikan FKPT Kepri, Ridarman Bay menjelaskan, Radikalisme adalah gerakan bawah tanah yang jika dilihat dipermukaan tidak akan kelihatan, namun cikal bakalnya selalu ada. Karena memang yang yang sekarang ini selalu muncul terkait Intoleransi.

Ridarman juga mengungkapkan, bahwa berdasarkan hasil pengamatan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI diungkapkannya, yang disasar bukan kalangan tokoh agama dan tokoh masyarakat, namun mengarah ke generasi muda.

“Karena ada beberapa kasusnya yang telah ditindak kmaren, dimana sejumlah pelajar terjerat ditindak pidana radikalisme di beberapa daerah,” ungkap Ridarman Bay.

Berbicara kondisi di Kepri, menurutnya Kepri sejauh ini relatif aman dilihat dipermukaan, dirinya mengapresiasi program kegiatan Kesbangpol Kepri, salah satunya Kesbangpol Masuk Sekolah (KEMAS) yang dimana secara rutin melakukan edukasi kepada pelajar.

Kegiatan KEMAS sendiri dilakukan dengan tema; penguatan Ideologi Pancasila dan Karakter Bangsa guna mewujudkan generasi muda Kepri yang berkualitas, terhindar dari Radikalisme, Terorisme dan Narkoba Serta memiliki Semangat Persatuan.

“Radikalisme itu perlu kita waspadai terlebih penggunaan media sosial yang semakin masif, generasi muda gampang diracuni pikirannya, untuk itulah nilai-nilai Pancasila perlu diberikan kepada generasi muda saat ini,” tandasnya.*

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top